Minggu, 27 Mei 2012

Pengaruh Tayangan Televisi Terhadap Perkembangan Sikap dan Perilaku Anak di Sekolah


PENGARUH TAYANGAN TELEVISI TERHADAP PERKEMBANGAN SIKAP DAN PERILAKU ANAK DISEKOLAH
Oleh:
Sherly Desliyanah
20112506038
Program Pasca Sarjana Universitas Sriwijaya
1.    Pendahuluan

Teknologi memberikan kontribusi yang cukup besar terhadap kehidupan manusia. Teknologi berasal dari istilah tekne yang berarti seni (art) atau keterampilan. Sedangkan menurut Dictionary of Science (dikutip oleh Adiputra, 2008) dalam artikelnya disebutkan bahwa teknologi adalah penerapan pengetahuan teoritis pada masalah-masalah praktis. Teknologi akan selalu memberikan pengaruh pada kelangsungan hidup manusia dan manusia pun terus mempengaruhi maju atau tidaknya teknologi.
Teknologi sudah sangat lama berkembang di Indonesia, perkembangan yang cepat baru terjadi pada abad 20-21 dan ditandai dengan adanya bermacam-macam teknologi yang telah digunakan di Indonesia. Dari sekian banyaknya macam teknologi, ada dua macam teknologi yang wajib diketahui yaitu, teknologi produksi, dan teknologi komunikasi. Togedogawa (2010) menyatakan dalam blognya, bahwa yang dimaksud dengan teknologi produksi merupakan alat dan cara yang digunakan manusia untuk menghasilkan barang atau jasa. Sedangkan yang dimaksud dengan teknologi komunikasi, yang masih dikutip dari artikel yang sama. Togedogawa (2010) menambahkan bahwa teknologi komunikasi merupakan kemampuan mengirim dan menerima pesan. Teknologi komunikasi ini terbagi lagi menjadi dua, yaitu komunikasi lisan dan komunikasi tertulis. Komunikasi lisan dapat dilakukan secara langsung dengan menggunakan pesawat telepon, dan dengan majunya teknologi hadirlah media komunikasi lainnya yaitu radio, televisi, dan internet. Bahkan yang tercanggih saat ini adalah teknologi satelit yang dapat dilakukan tanpa kabel, yaitu telepon seluler. Disisi lain, komunkasi tertulis dilakukan secara tertulis yaitu dapat dilakuakn dengan cara menulis surat secara langsung, atau menulis surat secara elektronik, yag mungkin dikenal dengan nama facsimile dan lain sebagainya. Teknologi benar-benar membe rikan sumbangsi yang sangat besar dalam memperlancar dan mempermudah hidup manusia.   
Terlepas dari hal tersebut, perkembangan dan kemajuan teknologi memberikan dua dampak atau pengaruh yang tidak dapat dipisahkan. Pengaruh positif dan pengaruh negatif, hal tersebut dikarekan teknologi itu sendiri dapat diakses oleh semua orang dari usia dini hingga usia lanjut. Salah satu teknologi yang berfungsi sebagai media komuniakasi yang sangat berperan penting dalam kehidupan manusia dan yang paling mudah diaskes oleh orang banyak adalah televisi. Televisi sudah bukan merupakan hal yang tabu lagi bagi masyarakat, semua orang bisa mengakses dan menggunakan televisi. Tetapi, hal yang mudah tidak selalu menghasilkan hasil yang positif, terkhusus lagi pengaruhnya terhadap perkembangan sikap dan prilaku anak. terkhusus tayangan yang ada di televisi tersebut, apakah mendidik atau tidak untuk anak dan akankah tayangan tersebut berefek terhadap sikap dan tingkah laku anak khususnya disekolah. Menurut pidarta (2007:194) jiwa manusia berkembang sejajar dengan pertumbuhan jasmani. Makin besar nak itu makin berkembang pula jiwanya, dengan melalui tahap-tahap tertentu akhirnya anak tersebut mencapai kedewasaan baik dari segi kejiwaan maupun dari segi jasmani. Pidarta juga menambahkan bahwa dalam perkembangan jiwa dan jasmani inilah seharusnya anak-anak perlu belajar, sebab pada masa ini mereka punya banyak waktu untuk belajar, mereka belum berumah tangga, belum bekerja, dan bertanggung jawab terhadap kehidupan keluarga. Masa anak-anak juga merupkan masa yang labil, dimana seorang anak akan sangat mudah terpengaruh. Crijn (dalam Pidarta,2007) menyatakan beberapa periode atau tahap perkembangan manusia secara umum, beberapa diantaranya adalah umur 2-4 tahun disebut masa kanak-kanak. Pada masa ini anak sudah mulai bisa berjalan dan menyebut beberapa nama, pengamatan yang mula-mula global, kini sudah mulai bisa melihat struktur, mereka sudah mulai suka menghayal sebab belum sadar akan lingkungannya. Umur 5-8 tahun disebut masa dongeng. Pada masa ini anak-anak mulai sadar akan kedudukannya. Umur 9-13 tahun disebut masa Robinson Crusoe. Pada masa ini, pemikiran kritis sudah mulaiberkembang. Nafsu persainagn, minat-minat, dan bakat pun sudah mulai berkembang. Mereka ingin mengetahui segala hal secara mendalam, suka bertanya, dan menyelediki. Pada masa inilah anak-anak akan sangat mudah sekali terpengaruh dan dipengaruhi dari apa yang mereka lihat dan mereka temui setiap hari. Apabila anak tersebut selalu didampingi oleh televisi, khusunya tayangan televisi, hal tersebut akan sangat mempengaruhi perkembangan sikap dan perilaku anak tersebut. Maka dari itu, hal yang akan dibahas dalam tulisan ini adalah pengaruh tayangan televisi terhadap sikap dan perilaku anak disekolah.

2.  Pembahasan
2.1 Televisi Sebagai Media Komunikasi
Salah satu media atau sarana komunikasi jarak jauh yang sangat mudah didapat dan diakses adalah televisi. Setiap orang bisa mengoperasikan dan menikmati segala tayangan yang ada di televisi tersebut. Kita bisa menjumpai televisi dimanapun, sebagian besar penduduk Indonesia sudah memiliki televisi. Inovasi demi inovasi sudah diusahakan untuk mengembangkan fungsi dan program televisi itu sendiri. Dulunya, televisi hanya memilki fungsi yang sederhana, yaitu hanya sekedar sebagai sarana untuk meluangkan waktu untuk berkumpul dan bersantai bersama keluarga, kerabat, atau lainnya.
Televisi mulai ditemukan dengan adanya hukum Gelombang Elektromagnaetik yang ditemukan oleh Joseph henry dan Michael faraday (1831) yang merupakan awal dari era komunikasi elektronik. Sitanggang (2009) dalam artikelnya menambahkan bahwa pada tahun 1873 seorang operator telegram menemukan bahwa cahaya mempengaruhi resistansi elektris selenium yang bisa digunakan untuk mengubah cahaya kedalam arus listrik dengan menggunakan fotosel selenium (selenium photocell). Penenemuan televisi terus berkembang dan akhirnya menjadi bentuk yang cukup sempurna. Pada masa itu ukuran layar TV hanya sekitar tiga sampai delapan inchi. Dan berkembang lagi, hal itu disebabkan kebanyakan orang sudah mulai bisa berbicara menggunakan telepon selular digital, dan mengirim e-mail lewat jejaring sosial. Teknologi televisi mengalami beberapa perkembangan yaitu dengan adanya tata suara stereo dan warna yang lebih baik, dan pada saat ini masyarakat sudah bisa menikmati televisi denga bentuk yang beragam, dari yang sangat kecil sampai yang besar, dimulai dari yang tebal sampai yang tipis. Bahkan ada yang bisa menyala tanpa menggunakan arus listrik sekalipun.
Televisi memiliki pengaruh dan peran yang cukup penting sebagai media komunikasi di Indonesia. Sama seperti media lainnya, yaitu sebagai media distribusi informasi kepada masyarakat. Televisi sangat berpengaruh dalam kehidupan masyrakat mulai dari kalangan menengah kebawah sampai yang menengah keatas. Hal tersebut dapat dibuktikan dengan banyaknya pengaruh buruk dan baik yang terealisasikan akibat tayangan televisi. Maka dari itu, televisi merupakan salah satu media yang paling berperan dan berpengaruh di Indonesia. Bukan hanya di Indonesia, televisi juga dapat menghubungkan satu Negara dengan Negara yang lainnya.
Televisi masih dianggap sebagai alat informasi yang ampuh untuk mengubah sikap penontonya. Sitanggang (2009) menambahkan bahwa media televisi sampai saat ini masih diasumsikan sebagai alat informasi yang ampuh dalam mengubah sikap dan perilaku pemirsanya, karena efek suara (audio) dan bentuk tayangan (visual) secara nyata dapat didengarkan dan disaksikan langsung oleh para pemirsa dirumah. Televisi memiliki daya tarik yang begitu besar yang dapat mengubah rutinitas dan nilai-nilai kehidupan manusia. Maka dari itu, sebagai penikmat fasilitas yang sudah ada, kita sebgai manusia harus pintar memilih program atau tayangan-tayangan yang ditayangkan di televisi tersebut. Khususnya untuk anak, apakah tayangan tersebut mendidik, dan cocok untuk ditonton mereka.  Dan sebagai orang tua, perhatian yang lebih harus diberikan ketika seornag anak sudah bisa menonton tayangan televisi, sehingga dampak atau pengaruh buruk tanyangan televisi tersebut tidak ikut terbawa dalam kehidupan sehari-hari, khususnya di dilingkungan sekolah. Karena anak-anak lebih banyak menghabiskan waktunya disekolah daripada dirumah. Dan sekolah juga merupakan tempat mereka bertemu teman, berkomunikasi, dan mungkin sedikit mempraktikan beberapa adegan yang ada ditanyangan televisi tersebut.

2.2 Pengaruh Tayangan Televisi Terhadap Perkembangan Sikap dan  
      Perilaku Anak di Sekolah
Televisi sudah merupakan media masa elektronik yang mampu mnyebar berita secara cepat dan program-program atau tayangan-tanyangan televisipun memiliki jumlah yang banyak yang dapat ditayangakan secara bersamaan pada waktu yang sama. Anak- anak lebih bersifat pasif ketika berinteraksi dengan TV, bahkan seringkali mereka sering terbawa suasana dan terhanyut dalam adegan-adegan yang ada dalam tayangan televisi tersebut.
Televisi memiliki fungsi yang cukup besar sebagai sarana atau media informasi, hibuan, bahkan bisa dikatakan sebagai alat untuk membantu kemajuan hidup. Tapi disisi lain, televisi juga memiliki dapat menularkan efek buruk bagi sikap, pola pikir dan perilaku seorang anak. Hal-hal tersebut pun juga bisa terbawa kelingkungan dimana anak tersebut bersosalisasi, khususnya disekolah. Hal ini dikarenakan, anak menghabiskan separuh waktunya disekolah. Tidak hanya pengaruh atau efek buruk saja yang ditimbulkan oleh televisi, tetapi televisi juga memilki pengaruh positif atau baik bagi anak, khususnya dalam perkembangan sikap dan perilaku disekolah. Televisi hadir sebagai salah satu sarana untuk berkomunikasi antar manusia, televisi memiliki beberapa fungsi. Ariestya (2009) dalam artikelnya menyatakan beberapa fungsi tayangan televisi, yaitu;
1) Fungsi rekreatif
     Pada dasarnya fungsi televisi adalah memberikan hiburan yang sehat kepada pemirsanya, karena manusia adalah makhluk yang membutuhkan hiburan.
2) Fungsi edukatif
Selain untuk menghibur, televisi juga berperan memberikan pengetahuan kepada pemirsanya lewat tayangan yang ditampilkan.
3) Fungsi informatif
Televisi dapat mengerutkan dunia dan menyebarkan berita sangat cepat. Dengan adanya media televisi manusia memperoleh kesempatan untuk memperoleh informasi yang lebih baik tentang apa yang terjadi di daerah lain. Dengan menonton televisi akan menambahkan wawasan.

Pada zaman sekarang ini, tayangan yang sering kita temui hanyalah tanyagan yang lebih mementingkan fungsi informative dan rekreatif saja, dan sedikit sekali tayangan yang memiliki fungsi edukatif.
Anak- anak dan televisi merupakan dua hal yang agak sulit untuk pisahkan, menurut Cooney (dikutip dalam Yonatahan, 2010), anak-anak dan televisi adalah suatu perpaduan yang sangat kuat yang diketahui orangtua, pendidik, dan pemasang iklan. Televisi juga merupakan suatu alat yang melebihi budaya dalam mempengaruhi cara berpikir dan perilaku anak. Televisi dapat membantu anak mengetahui hak-hak dan kewajiban anak sebagai warga negara yang baik dan bisa membangkitkan semangat anak untuk melibatkan diri dalam perbaikan lingkunagn masyarakat, yang disertai oleh panduan orang tua (Chen, 1996). Singkat kata, sedikit banyak tayangan televisi dapat mempengaruhi cara pikir serta sikap dan perilaku anak. Salah satu penelitian di American Academic of Pediatrics menemukan bahwa menonton TV sebelum berusia tiga tahun akan sedikit merusak perkembangan kognitif anak dimasa yang akan datang, tetapi pada usia tiga tahun dan lima tahun, menonton TV akan sedikit membantu anak untuk meningkatkan kemampuan baca anak.  Banyak anak menganggap tayangan televisi lebih menyenangkan dari pada belajar. Banyak anak merasa tayangan televisi dapat membantu mereka melupakan kesulitannya, dan televisi juga membantu mereka untuk mempelajari sesuatu yang baru, mengisi waktu, memberikan rangsangan, bersantai, mencari sahabat, dan lain sebagainya.
Sebenarnya, kebisasaan menonton bagi anak bukanlah merupakan hal yang baik, hal ini sudah disinggung oleh Keith W. Mielke dalam bukunya yang berjudul “Televisi dan Perkembangan Sosial Anak” yang dikutip dari artikel yang dipostkan oleh Arini Hidayanti, dinyatakan bahwa “masalah yang paling besar bukanlah jumlah jam yang dilewatkan si aak untuk menonton televisi, melainkan program-program yang ia tonton dan bagaimanakan peran serta orang tua dan guru memanfaatkan program-program ini untuk sedapat mungkin membantu kegiatan belajar mereka.” (1998:174).
Bersadarkan kutipan diatas, telah jelas bahwa orang tua dan guru harus berperan aktif untuk membantu anak dalam memanfaatkan tayangan atau program televisi itu sendiri. Hal ini dikarekan, apabila anak tersebut kurang mendapatkan bimbingan dari orang tua dan guru, maka efek positif dari tayangan tersebut akan slah jalur, dan berubah menjadi pengaruh negative yang sangat berpengaruh dalam perkembangan sikap dan perilaku anak itu sendiri. Terkadang, tayangan televisi menanpilkan perikaku-perilaku yang kurang hormat kepada orang tua, kepada guru, atau menayangkan adegan pacaran oleh anak, yang belumpatas untuk ditonton oleh anak, atau lebih menampilkan gaya hidup hura-hura dan yang ini sangat mudah mempengaruhi anak-anak, dan masih banyak yang lainnya.  
Dikutip dari artikel Ningsih (2009), dibawah ini dicantumkan data mengenai fakta tentang pertelevisian Indonesia:
1. Tahun 2002 jam tonton televisi anak-anak 30-35 jam/hari atau 1.560 – 1.820jam/tahun, sedangkan jam belajar SD umumnya kurang dari 1.000jam/tahun.
2. 85% acara televisi tidak aman untuk anak, karena banyak mengandung adegan kekerasan, seks dan mistis yang berlebihan dan terbuka.
3. saat ini ada 800 judul acara anak, dengan 300 kali tayang selama 170jam/minggu padahal satu minggu hanya ada 24 jam X 7 hari = 168 jam.
4. 40 % waktu tayang diisi iklan yang jumlahnya 1.200 iklan/minggu, jauh diatas rata-rata dunia 561 iklan/minggu.

Sebagai tambahan, 83% dari anak-anak usia 0-6 tahun lebih banyak menghabiskan waktu untuk menggukan media-media bergambar dan bermain diluar rumah. 79% dari anak-anak menghabiskan waktu mereka untuk membaca, mendengarkan musik. 73% dari anak-anak menggunakan waktu mereka untuk menonton tayangan televisi dan DVD. 18% dari anak-anak menggukan waktu mereka untuk bermain computer dan 9% dari mereka menggunakan waktu mereka untuk bermain video game ( Victoria,2003).
Berdasarkan data diatas, dapat ditarik kesimpulan bahwa jam nonton anak SD lebih banyak dibandingkan jam belajarnya, dan hal ini akan berdampak padak sikap dagan tingkah laku anak disekolah. Mereka cenderung lebih malas belajar, dan mereka lebih sering mempraktikan beberapa adegan yang ada ditelevisi tersebut, seperti sudah mulai menyukai lawan jenisnya, padahal usia mereka belum cukup untuk mengenal istilah pacaran.
Jika kita bahas lebih dalam lagi, Ariestya (2009) mengemukakan dampak negatif menonton televisi yang berlebihan, yaitu:
a.       Anak 0–4 tahun, menggangu pertumbuhan otak, menghambat pertumbuhan berbicara, kemampuan herbal membaca maupun maupun memahaminya, menghambat anak dalam mengekspresikan pikiran melalui tulisan.
b.      Anak 5-10 tahun, meningkatkan agresivitas dan tindak kekerasan, tidak mampu membedakan antara realitas dan khayalan. Anak kecil belum mampu membedakan dunia yang ia lihat di TV dengan kenyataan yang sebenarnya. Seorang anak kecil belum dapat mengenal dan mengetahui apakah itu acting, efek film, atau tipuan kamera. Bagi mereka, dunia di luar rumah adalah dunia seperti yang mereka lihat di televisi.
c.       Berperilaku konsumtif karena rayuan iklan. Iklan merupakan salah satu bentuk promosi untuk menawarkan produk kepada masyarakat. Sekarang ini semakin banyak iklan yang menawarkan berbagai produk dari mainan anak, jajanan, minuman, dan sebagainya. Iklan-iklan tersebut memberikan janji yang sangat menarik bagi sebagian besar anak. Sehingga anak selalu berusaha memiliki produk yang ditawarkan oleh iklan tersebut.
d.      Mengurangi kreativitas, kurang bermain dan bersosialisasi, menjadi manusia individualis dan sendiri. Saat menonton televisi, anak kurang beraktivitas, hanya duduk di depan televisi dan melihat apa yang ditayangkan televisi. Baik secara fisik maupun mental, anak menjadi pasif. Kemampuan berpikir dan kreativitas anak tidak terasah, karena ia tidak perlu membayangkan atau berimajinasi layaknya ketika ia sedang membaca buku atau mendengar musik. Kecanduan menonton TV akan bermasalah ketika ini mengakibatkan anak menjadi tidak bermain ke luar rumah dengan lingkungan sekitar. Ia menjadi tidak bersosialisasi da dunianya tidak bertambah luas.
e.       Televisi menjadi pelarian dari setiap keborosan yang dialami, seolah tidak ada pilihan lain.
f.       Meningkatkan kemungkinan obesitas (kegemukan) karena kurang berkreativitas dan berolahraga. Menonton televisi kebanyakn merupakan kegiatan yang pasif dimana anak hanya duduk, melihat dan mendengarkan. Hal ini tidak menutup kemungkinan anak dapat menjadi gemuk karena mereka bisaanya menonton televisi disertai dengan makan cemilan.
g.      Merenggangkan hubungan antar anggota keluarga, waktu berkumpul dan bercengkrama dengan anggota keluarga tergantikan dengan nonton TV, yang cenderung berdiam diri karena asyik dengan jalan pikiran masing-masing
h.      Matang secara seksual lebih cepat. Asupan gizi yang bagus, adegan seks yang sering dilihat menjadikan anak lebih cepat matang secara seksual, ditambah rasa ingin tahu pada anak dan keinginan untuk mencoba adegan di TV semakin menjerumuskan anak.
i.        Penambahan kosakata pada anak. Anak cenderung meniru adegan atau ucapan yang sering mereka jumpai di televisi. Padahal saat ini banyak sekali bahasa dan umpatan yang tidak disensor dan ditirukan oleh anak. Ironisnya, bahasa dalam film atau sinetron malah dijadikan trend.

Menurut Konsep Jean Piaget (dikutip dari Pidarta, 2007) tentang tingkat perkembangan psikologi anak yaitu khususnya tentang perkembangan kognisi anak.
1.      Periode sensorimotor pada umur 0-2 tahun. Kemampuan anak terbatas pada gerak-gerak refleks.
2.      Periode praoperasional pada umur 2-7 tahun. Perkembangan bahasa anak sudah mulai sangat pesat. Peranan intuisi dalam memutuskan sesuatu masih besar, dan anak juga sudah mulai bisa menyimpulkan hanya berdasarkan sebgaian kecil dari apa yang mereka ketahui. Analisa rasional belum berjalan.
3.      Peride operasi konkret pada umur 7-11 tahun. Anak sudah bisa mulai berfikir logis, sistematis, dan memecahkan amsalah yang bersifat konkret.
4.      Periode operasi formal pada umur 11-15 tahun. Anak-anak sudah mulai dapat berfikir secara logis terhadap masalah baik yang konkret maupun abstrak.

Berdasarkan kajian yang telah dikemukakan diatas, dapat ditarik kesimpulan, bahwa peran serta tayangan televisi sangat besar dalam perkembangan anak, terkhusus lagi terhadap pola pikir, sikap dan perilaku anak di sekolah. Dikhususkan pada anak usia 2-7 tahun (menurut konsep kognisi Piaget) dimana anak mengalami perkembangan pesat dalam bahasa, dan hanya bisa menyimpulkan sesuatu berdasarkan apa yang mereka lihat. Apabila anak pada usia ini selalu mendapatkan teman yang berupa tayangan televisi, maka hal tersebut akan sangat mempengaruhi perkembangan sikap dan perilaku anak tersebut. Mereka sedikit anyak akan meniru apa yang mereka lihat dari tanyangan televisi tersebut. Menurut AAP, berdasarkan peneletian yang telah dilakukan, banyak bukti menunjukan bahwa tayangan televisi khususnya tayangan kekerasan dapat menyebabkan perilaku agresif, desensitisasi terhadap kekerasan, mimpi buruk, dan takut dirugikan. Menonton tayangan kekerasan juga dapat menyebabkan penontonya kurang memiliki empati terhadap orang lain. Maka dari itu, apabila anak- anak terlalu sering didampingi oleh tayangan televisi, akan ada kemungkinan nantinya anak tersebut tidak sengaja menonton tayangan kekerasan tersebut. Disinilah diperlukan peran serta orang tua dan guru, yang mana sebelumnya sudah dikatakan bahwa guru dan orang tua merupakan pembimbing si anak dalam memanfaatkan tayangan yang ada di televisi tersebut.
2.3 Peran Orang Tua
Orang tua merupakan pihak yang paling bertanggung jawab untuk mengawasi anaknya dan memperhatikan perkembnagan anaknya. Setiap orang tua harus peka dan dapat memperhatikan setiap hal kecil yang diamati atau dilakukan oleh anaknya. Orang tua juga harus mampu mengantisipasi setiap dampak atau pengaruh positif dan negatif yang akan ditimbulkan oleh hal tersebut. Terkhusus mengenai tayangan televisi. Televisi memang menberikan sejumlah pengaruh positif terhadap tumbuh kembang skap dan perilaku anak khususnya disekolah. Tetapi, tayangan televisi tidak hanya memberi pengaruh positif, tayangan televisi juga memberi pengaruh negative terhadap perkembangan sikap dan perilaku anak khususnya disekolah. Seperti yang sudah disinggung dalam pembahasan sebelumnya. Maka dari itu, setiap orang tua harus mampu mengatasi dan mengantisipasi permasalahan tersebut. Dari sekian banyak pengaruh buruk telivisi, setiap orang tua dapat melakukan beberapa hal yang dapat membantu untuk mengantisipasinya, yaitu;
a.    Memilih acara yang sesuai dengan usia anak, setiap orang tua harus pandai memilih dan memilah scara yang akan ditonton oleh anak. Orang tua harus mampu membatasi tayangan televisi yang bisa ditonton oleh anak, dan tidak membiarkan anak menonton tayangan yang tidak sesuai dengan usia mereka. Orang tua harus mampu mneganalisa tayanga tersebut, apakah sudah sesuai dengan usia anak tersebut (tidak terdapat unsur kekerasan, criminal, atau hal lainnya yang tidak sesuai dengan usia anak).
b.    Dapat mendampingi dan mengawasi anak pada saat menonton tayangan televisi, disamping dapat memilih tayangan yang sesuai dengan usia anak, orang tua juga harus dapat meluangkan waktu untuk mendampingi dan mengawasi anak pada saat menonton televisi. Hal ini bertujuan untuk mengontrol setiap tayangan atau acara televisi yang sedang ditonton anak masih dalam jalur yang aman. Usahakan untuk meletakan televisi ditempat yang strategis yang mudah dikontrol dari sudut manapun dirumah.
c.    Memberikan pendidikan yang mengandung nilai-nilai agama, setiap orang tua harus selalu membiasakan diri untuk mendidik anak mereka dengan memberi sedikit ilustrasi pendidikan keagamaan, dan menyuruh anak tersebut untuk memperaktikannya di lingkungan sekolah atau diluar jam sekeolah. Hal ini bertujuan agar anak mendapatkan bekal keagamaan sehingga dapat berpikir jernih, dan mampu membedakan mana hal yang baik dan yang buruk.
d.   Ajaklah anak untuk keluar rumah dan menikmati alam serta lingkungan, dan ajaklah mereka untuk bersosialisasi secara positif dengan orang lain. Orang tua bisa mengajak anak untuk liburan dialam terbuka misalkan piknik, atau hiking, sehingga dapat meminimalis kesempatan anak untuk menonton tayangan televisi, dan juga mampu membangun jiwa sosial anak tersebut.
e.    Sedikan dan letakanlah sejumlah buku yang mudah dijangkau anak. Setiap orang tua harus memperkenalkan buku da dunia baca terhapa anak sedini mungkin, dengan membaca anak akan lebih mudah untuk belajar, dengan membaca buku juga, orang tua dapat mengurangi intensitas aak untuk menonton tv. Orang tua juga bisa memulai untuk memutarkan radio atau music yang digemari anak sebagai sarana untuk mengurangi kebiasaan anak untuk menonton televisi.
Setiap informasi yang didapat oleh anak dari tayangan televisi tidak akan terlepas dari hal negatif dan positif, maka dari itu partisipasi atau peran serta orang tua sangat dibutuhkan dalam hal ini. Informasi yang didapat dari kecanggihan teknologi bukan merupakan masalah besar bagi anak karena mereka sudah memiliki bekal dan filter yang mampu membantu mereka untuk menyerap dan menyaring informasi yang sifatnya negative, dan hal ini juga tidak akan berpengaruh buruk untuk perkembangan sikap dan perilaku anak disekolah.
2.4 Peran Guru dan Sekolah
Terlepas dari peran serta orang tua dalam mengantisipasi terjadinya pengaruh buruk dari tayangan telvisi terhadap perkembangan sikap dan perilaku anak disekolah, guru dan pihak sekolah juga harus ikut campur tangan untuk mnegatasi hal tersebut. Disekolah fasilitas yang disediakan untuk membantu menyelesaikan permasalan tersebut adalah dengan adanya guru BK. Selain guru BK, peran serta guru lainnya juga sanhat dibutuhkan. Anak memiliki tiga lingkungan yang tidak bisa terlepas dari kehidupan mereka, yaitu; lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, dan lingkungan sosial. Setiap guru harus mampu mentransfer hal-hal positif dari tanyangan televisi, dan mampu memberi pengertian terhadap anak.
2.5 Peran Pemerintah
            Pemerintah juga memiliki peranan penting untuk mengantisipasi terserapnya dampak negatif dari tayangan televisi terhadap perkembangan sikap dan perilaku anak. Indonesia sudah memiliki KPAI sebagai sarana untuk menyeleksi program atau tayangan yang akan ditayangkan di televisi. Pemerintah juga sudah mengupayakan usaha lain yaitu dengan menyediakan Televisi ramah anak, dimana acara yang ditayangkan sesuai dengan kebutuhan anak. Selain Televisi ramah anak, pemerintah juga sudah mengusakahan sarana lainnya yaitu Pendidikan Media Literacy. Pendidikan media literacy ini dikembangkan oleh Association for Media Literacy (AML) Ontario Kanada yang dikenal sebagai negara di Amerika Utara yang gigih dalam mengembangkan kecakapan bermedia. Media Literacy merupakan satu bentuk kecerdasan dalam bentuk interaksi dan menggunakan media. Pendidikan Media Literacy ini diupayakan agar dapat mengatasi dampak buruk televise (Mazdhalifah, 2012). Yayasan Pengembangan Anak Indonesia (2006) merupakan salah satu lembaga pemantau media anak, dan yang menerapkan pendidikan media literacy. Adanya sumbangsi pemerintah ini, tidak berarti peran orang tua dan sekolah tidak berguna. Disini peran serta kedua pihak sangat dibutuhkan, terlebih lagi orang tua. Orang tua diharapkan memiliki pengetahuan dalam mengoperasikan media itu sendiri, sehingga mereka bisa memilih dan memilah tayangan yang baik untuk anak-anak mereka. Mazdalifah (2012) juga menambahkan bahwa keluarga terutama ayah dan ibu perlu mendapat pendidikan agar memiliki pengetahuan dan keterampiran tentang bagaimana caranya berhadapan, dan menggunakan media khususnya media televisi secara efektif.
3.    Kesimpulan
Televisi merupakan media komunikasi yang sangat berperan penting dalam kehidupan manusia. Tayangan-tayangan televisi dapat memberikan informasi kepada masyarakat banyak, dan tayangannya pun juga bisa menja suatu inspirasi dalam melakukan sesuatu, tetapi hal tersebut bisa dimanfaatkan apabila pengungga media tersebut sudah dapat membedakan mana yang baik dan yang buruk. Tidak untuk anak, seorang anak memerlukan bimbingan orang tua ketika mereka menonton tayangan televisi itu sendiri, hal itu dikarenakan seorang anak lebih cepat terpengaruh, dan hal ini juga sangat mempengaruhi perkembangan sikap dan perilaku anak khususnya disekolah. Karena separuh dari waktu yang dimiliki oleh anak akan ia habiskan di sekolah. Sekolah merupakan lingkunagn dimana anak akan mempraktikan apa ia lihat dari televisi, dan mungkin mereka akan sedikit meniru beberapa adegan yang ada di TV, dan itu sangat menganggu perkembangan sikap dan perilaku anak disekolah. Maka dari itu, peran serta guru, orang tua dan pemerintah sangat diperlukan untuk menyigapi hal ini. Orang tua harus mengontrol dan menyeleksi tayangan televisi yang akan ditonton anak, dan guru harus lebih pintar menyigapi pertanyaan anak disekolah terkait dengan adegan yang mereka lihat dari televisi.



REFERENSI

Ariestya. 2009. Pengaruh Tayangan Televisi Terhadap Perkembangan Psikologis Anak.  Diakses pada hari Minggu, 08 April 2012 dari http://situliatsitucoment.blogspot.com/2009/02/pengaruh-tayangan-televisi-terhadap.html 
Boyse, Keyla. 2010. Television and Children. Diakses pada hari Minggu, 27 Mei 2012 dari http://www.med.umich.edu/yourchild/topics/tv.htm
Guitarezzhe, Novanda. 2012. Pengaruh Tayangan Televisi Terhadap Sikap dan Perilaku Anak. Diakses pada hari Minggu, 08 April 2012 dari http://blog.umy.ac.id/yaharisadoank/2012/01/07/pengaruh-tayangan-televisi-terhadap-sikap-dan-perilaku-anak/   
Hidayanti, Arini. 2011. Pengaruh Televisi Terhadap Perkembangan Anak. Diakses pada hari Minggu, 08 April 2012 dari http://blog.elearning.unesa.ac.id/tag/intisari-buku-televisi-dan-perkembangan-sosial-anak-arini-hidayati.
Mazdalifah. 2012. Pendidikan Media Literacy Keluarga: Upaya Mengatasi Dampak Buruk Media Televisi Bagi Anak-anak. Diakses pada hari Minggu, 27 Mei 2012  dari http://mazdalifahjalil.wordpress.com/2012/02/14/pendidikan-media-literacy-keluarga-upaya-mengatasi-dampak-buruk-media-televisi-bagi-anak-anak/
Natanael, Yonathan., and Sufren. 2010. Peran Televisi Terhadap Perilaku Prososial Anak-anak TK. Diakses pada tanggal 27 Mei 2012 dari http://www.psikologi.tarumanagara.ac.id/s2/wp-content/uploads/2010/09/26-peran-media-televisi-terhadap-perilaku-prososial-anak-anak-tk-kajian-non-empiris-yonathan-natanael-sufren.pdf
Ningsih. 2009. Pengaruh Televisi Terhadap Anak. Diakses pada hari Minggu. 08 April 2012 dari sazkiaarias.blog.fisip.uns.ac.id/.../Pengaruh-Televisi-Terhadap-Perilaku-Anak-full.docx.
Pidarta, Made. 2007. Landasan Kependidikan. Jakarta: PT. Rineka Cipta.
Rideout, V.J.,Vandewater, E.A., and Waterlela, E.A. 2003. Zero to Six : Electronic Media in the Lives of Infants, Toddlers, and Prescholers. Diakses pada hari Minggu, 27 Mei 2012 dari http://www.kff.org/entmedia/upload/Zero-to-Six-Electronic-Media-in-the-Lives-of-Infants-Toddlers-and-Preschoolers-PDF.pdf
Sumarno, Alim. 2011. Perubahan Konsep dalam Teknologi Pembelajaran. Diakses pada hari Minggu, 25 Maret 2012 dari  http://elearning.unesa.ac.id/myblog/alim-sumarno/perubahan-konsep-dalam-teknologi-pembelajaran.





























Tidak ada komentar:

Poskan Komentar